The Jakarta Melancholy (I)


Kulihat arloji di tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat empat puluh lima menit. “Aku sudah terlambat satu jam lebih!,” batinku. Segera aku keluar dari toko dan bergegas ke gedung perkantoran di seberang jalan. Ini sudah jam makan siang.

Setibanya di kantin, suasana sudah sepi. Aku hanya melihat dia duduk sendirian di meja pojok. Lelaki itu, bodoh seperti biasa. Jam masuk kerja harusnya sudah dimulai sejak pukul satu tepat, tapi ini sudah hampir jam dua, waktu istirahat sudah selesai dari tadi dan dia masih saja duduk diam di kantin.

“Kenapa kau tidak kembali ke kant…,” PLAAKK! Sebuah tamparan keras mendadak mendarat di pipi kananku. Aku terhuyung tidak sadarkan diri selama beberapa saat. Siapa…? Kenapa…? Setelah kesadaranku berangsur-angsur pulih, kupegang pipiku yang panas dengan mata yang berkaca-kaca. Tamparan ini, tidak salah lagi, dia yang melakukannya. Orang yang sangat kucintai…

“Kenapa kamu lama sekali?,” tanyanya datar. Entah kenapa aku merasa sangat takut.

“A… aku lupa..,” jawabku terbata-bata, “… toko tadi sangat ramai. Aku sibuk melayani pelanggan. Maaf.”

Tidak terasa air mataku menetes, entah karena takut, entah karena perasaan bersalah bercampur sedih. Aku pun menangis. Di sela-sela air mataku yang tumpah, aku melihat dia menaruh makanan yang kubawakan di atas meja. Dan, demi Tuhan. Dia mengangkat tangannya ke atas hendak memukulku lagi, jantungku seolah berhenti berdegup, “Jangan!” Pekikku spontan ketakutan. Gerakannya terhenti. “Jangan… jangan pukul aku lagi…,” kataku mengiba “,Rasanya sakit… sakit…”

………..

Aku kemudian menemaninya makan siang. “Ini, ambillah,” katanya sambil menyodorkan sapu tangan yang sudah diberi es batu. Nampaknya dia merasa menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Namun tidak kasihan, dia orang yang tidak mengenal belas kasihan. Dan aku tahu benar, walau dia menyesal, dia tidak pernah mengucapkan kata maaf. Akhirnya akulah yang berkali-kali mengucapkan kata tersebut. “Terima kasih…,” ucapku seraya mengambil sapu tangan basah tersebut.

Kami berdua lebih banyak diam, sesekali dia bercerita tentang kejadian hari ini. Aku hanya menanggapinya dengan senyum, sambil tanganku menempelkan sapu tangan basah itu di pipiku. Itu sudah cukup sebagai isyarat bahwa “aku disini” dan “aku mendengarkan”. Sementara itu benakku mengembara ke mana-mana.

12:30

“Shel, jam berapa sekarang?,” tanyaku di ruang karyawan sambil melepas celemek. “Jam setengah satu,” jawab Shella.

“Gawat!”

“Kenapa?,” tanya Shella lagi,”Oh iya, pasti pacarmu ya?”

“Hu-um, enaknya gimana nih? Aku pasti kena marah…”

“Bawa saja makanan yang spesial,” saran Shella. Aku pun mengikuti sarannya tersebut. Karena itu waktu pembuatannya jadi lebih lama. Beberapa bahan-bahannya aku ambil dari toko, aku masih ingat Shella yang mengingatkanku bahwa seharusnya aku tidak boleh menggunakannya. Lantas aku bilang kalau nanti aku ganti dengan uangku untuk apa-apa yang telah kuambil dari toko.

“Hhh, kenapa sih kamu berkorban untuk laki-laki kayak dia,” sahut Shella ketika aku keluar dari toko. Aku cuma tersenyum padanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s