Siapa yang Menaruh Kunci di Atas Lemari ?


Bercanda yang berlebihan seringkali bisa membuat kita alpa, dan di saat kita lupa tersebut kadang ada pihak-pihak lain yang ingin memanfaatkan…

Siang itu, seperti biasa pada saat liburan aku menjemput adikku pulang dari SD-nya. Sepanjang jalan kami bercanda karena kami hanya bertemu pada saat liburan dan adikku paling senang kalau diajak naik sepeda motor. Sesampainya di rumah, motor saya parkir di garasi dan terbawa suasana bercanda, adikku langsung mencabut kunci kontak motor dan kemudian lari ke dalam rumah sambil tertawa-tawa.

Setelah itu, bapakku menelepon dan menyuruhku untuk bersiap-siap, karena nanti sore akan diajak menonton TDKR di bioskop sekeluarga. Kami mendapat tiket nonton gratis dari kantor bapak yang memang dikeluarkan setahun sekali, biasanya setelah lebaran. Setelah selesai bersiap-siap, aku dan kedua adikku (Nina dan Fian) berangkat naik taksi ke kantor bapak. Dari sana kami akan menjemput ibu dan kemudian pergi menonton bersama-sama. Walau aku sudah nonton, tapi karena film-nya memang seru, jadi sensasinya kerennya belum hilang. Kami sampai di rumah sekitar jam 10 malam, karena sudah cukup larut, sampai rumah aku langsung tidur. Begitu juga dengan bapak, ibu dan adik-adikku.

Esok paginya, aku yang masih mengantuk tiba-tiba digugah (dibangunkan) oleh Mak Pik. Serumah katanya sedang ribut mencari kunci kontak motor, “Mas wingi kuncine disimpen ngendi? (Mas kemarin kuncinya di simpan dimana)” Aku yang setengah sadar sontak langsung ingat kalau kemarin kunci motor dibawa Nina, adikku. “Wingi digowo nina mak pik, njajal ditakoni. (Kemarin kuncinya dibawa Nina, coba tanya dia),”  kataku. Adikku yang saat itu juga masih setengah sadar juga sudah ditanyai oleh ibuku, namun jawabnya hanya,”Nggak tahu… Aku lupa..” Karena terus menerus dicecar pertanyaan, adikku lantas menangis. Aku juga kena marah bapak karena teledor membiarkan benda penting seperti kunci kontak dibuat mainan oleh adikku.

Hari itu kunci tidak ketemu, walau sudah dicari dimanapun, di kamar Mak Pik, di meja belajar maupun di tempat mainan adikku, hasilnya nihil. Akhirnya digunakan kunci serep/cadangan untuk menyalakan sepeda motor yang akan dipakai mengantar adik ke sekolah.

Keesokan harinya, karena bapakku orangnya tegas, kami serumah diperintahkan untuk mencari sampai ketemu. Bapakku juga ikut mencari. Hari itu aku bangun agak siang, ketika aku sedang turun ke lantai satu ingin membantu mencari, tiba-tiba Mak Pik berkata, “Kuncine wes ketemu mas (Kuncinya sudah ketemu mas)” Aku agak terkejut, dan bertanya “Wah ketemu neng ndi mak pik? (Ketemu di mana mak pik)” Dan jawabannya sungguh mengherankan, “Neng ndhuwur lemarine Bapak mas (Di atas lemari bapak mas).”

Saat itu seisi rumah kaget. Jadi pagi itu bapakku ikut mencari, dan entah kenapa seperti ada yang mendorong bapakku untuk mencari di atas lemari yang ada di kamar bapakku. Ketika diraba-raba, masih tidak menemukan apa-apa. Bapakku lantas mengambil kursi dan melihat ke atas lemari. Alangkah terkejutnya ketika kunci kontak yang dicari selama dua hari ini tergeletak di pojok atas lemari berhimpitan dengan tembok. Bapakku langsung mengambilnya.

Kami semua dibuat heran, karena sewaktu aku pulang dari menjemput Nina dua hari yang lalu, kamar bapakku masih terkunci dan kami langsung pergi menonton film di bioskop. Kamar bapakku baru dibuka setelah selesai menonton film, atau kurang lebih jam 10 malam. Dan bagaimana bisa kunci motor itu bisa sampai atas lemari yang tinggi-nya sekitar dua meter? Karena yang terakhir kali memegang kunci itu adalah Nina yang tingginya hanya 100 sentimeteran, rata-rata tinggi anak kelas dua SD.

Bagaimana kunci itu bisa masuk ke kamar bapakku yang terkunci dan berada di atas lemari masih menjadi misteri. Lemari bapakku itu adalah lemari kuno warisan dari mbah buyut, terbuat dari kayu jati kokoh dan berwarna hitam dengan model ukiran khas Jawa. Awalnya lemari tersebut cuma memiliki kunci kayu namun sekarang sudah ditambah dengan kunci mekanik. Aku pun lantas ingat kalau biasanya bapakku ketika menyimpan kunci pasti di atas lemari tersebut, entah kunci laci, kunci lemari dan sebagainya. Mungkin ada yang ingin mengembalikan kunci kontak tersebut pada tempatnya, karena khawatir hilang ketika dibuat mainan oleh adikku…

Beberapa bulan kemudian, ndilalah motor yang punya kunci kontak tersebut hilang dicuri di stadion Jatidiri, waktu itu bapakku lupa mencopot kunci kontaknya dari bagasi ketika ada acara di stadion. Akibatnya, sekarang kunci itu beserta motornya raib selamanya.

Kisah ini nyata dialami keluargaku pasca lebaran kemarin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s