Perempuan Berseragam yang Berjalan Kaki di Sore Hari


Tugasku sehari-hari ketika sedang di rumah adalah mengantar adikku bersekolah di pagi hari dan menjemput ibuku pulang dari kantor di sore hari. Adikku yang sekarang masih SD kelas 2 memang membutuhkan pengawalan khusus ketika ingin berangkat sekolah, apalagi SD-nya yang berada di kelurahan Sendangmulyo harus melewati jalan raya apabila ingin ke sana.

Sedangkan ibuku yang kantornya berada di kawasan Simpanglima selalu naik angkot untuk pulang. Biasanya aku menjemput ibuku di dekat pertelon salak ataupun di BLK lewat belakang perumahan, karena rute angkot tidak melewati rumahku.

Terkadang rutinitas itu agak membuatku jengkel, karena selama liburan biasanya ada tugas kuliah yang harus diselesaikan. Contohnya seperti liburan semester 3 atau 5 kemarin, aku lumayan lupa. Pada hari itu seperti biasa aku disuruh ibuku untuk menjemput di pertelon Salak, waktu itu sudah menjelang maghrib dan agak gerimis. Aku pun berangkat mengendarai motor. Perumahanku, namanya perumahan Kinijaya, adalah perumahan yang boleh dibilang sudah ada cukup lama. Didirikan pada tahun 70-an dan mempunyai jalan utama yang besar dengan dua lajur. Suasana perumahan yang memang sepi ditambah gerimis pada sore hari itu membuatku agak mengantuk sehingga sepeda motor kukendarai pelan-pelan.

Sampai di pertelon Salak, ibuku sudah menunggu di sana. Mengingat sedang gerimis kami pun segera pulang. Suasana sudah menjelang maghrib ketika kami ada di perjalanan. Motor memasuki gerbang utama perumahan, kemudian entah kenapa aku memilih jalan yang melewati masjid perumahan. Aku seperti biasa berbicara dengan ibuku selama perjalanan. Setelah melewati mesjid, adzan pun mulai berkumandang.

Jalan setelah lewat mesjid perumahan adalah jalan menurun dengan pertigaan di ujungnya, untuk sampai ke rumah kami harus belok ke kiri dengan belokan yang hampir 90 derajat. Menjelang tikungan, aku melihat ada seorang perempuan berseragam SMA sedang berjalan kaki di trotoar di pertigaan tersebut.

Dan entah kenapa ketika ingin belok mendadak motorku oleng dan, brak ! Jatuh dengan sendirinya. Saat itu aku sempat loncat dari motor sedangkan ibuku jatuh tertimpa motor, namun untungnya tidak mengalami cedera berarti. Bagaimanapun kejadian itu sempat membuat kami kaget dan tegang. Setelah mendirikan motor dan bersiap-siap untuk berangkat. Aku pun teringat perempuan yang tadi kami lihat, “Lho bu, perempuan tadi mana ya?,” tanyaku. Ibuku yang masih kaget karena kejadian tersebut juga tampak heran. Kami lantas melanjutkan perjalanan, sepanjang jalan kami sama sekali tidak melihat lagi perempuan itu. Hal itu sempat membuat kami merinding, karena logikanya dengan jarak yang sangat dekat ketika motorku jatuh seharusnya paling tidak perempuan tersebut menoleh dan berhenti sejenak. Namun saat kejadian itu terjadi perempuan tersebut seperti menghilang dari jalanan. Sedangkan rumah-rumah yang ada di sepanjang jalan tadi kebanyakan rumah para pensiunan yang putra putri nya sudah bekerja atau kuliah.

Aku hanya berpikir dalam hati, mungkin inilah kenapa banyak yang melarang bepergian di saat adzan berkumandang, apalagi adzan maghrib. Kami melanjutkan perjalanan dengan sisa2 adzan maghrib masih menggema. Sesampainya di rumah, kami pun langsung menunaikan shalat maghrib dan tidak memikirkan lagi kejadian yang barusan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s