Caping Gunung…


Deru senjata masih terdengar dari balik perbukitan. Penduduk desa yang ketakutan hanya bisa bersembunyi di dalam rumahnya masing-masing. Batin mereka selalu diliputi oleh pertanyaan yang berkecamuk, “Kapan perang akan selesai, kapan Indonesia merdeka?”

080220121212

Malam itu, gubug rumahku diketuk oleh seseorang. Yang ternyata adalah prajurit muda yang sedang melarikan diri dari peperangan dan sampai di desa kami. Kakak perempuanku segera membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Kami obati luka-luka prajurit tersebut dengan peralatan seadanya.

Keesokan harinya, serdadu Jepang menyatroni desa kami untuk mencari dan menangkap prajurit-prajurit Indonesia yang bersembunyi. Oleh kakakku prajurit tersebut diberinya sebuah caping gunung, semacam topi petani dan kemudian diajak ke sawah menyamar sebagai penduduk desa. Akhirnya dia lolos dan selamat dari kejaran serdadu-serdadu tersebut.

Setelah sekian lama tinggal di desa, kakakku dan prajurit tersebut mulai jatuh cinta satu sama lain. Prajurit tersebut berasal dari kota, dan berjanji bahwa jika negara ini merdeka, dia akan membawa kakakku ke kota dan kemudian menikahinya.

Beberapa hari kemudian, meletuslah pertempuran lima hari di Semarang. Prajurit itu bersama beberapa kawannya yang berlindung di desa kami, berangkat untuk perang. Dan saat itu menjadi saat-saat terakhir kakakku melihatnya.

Dua hari kemudian Indonesia merdeka, dan setelah itu tidak pernah kudengar lagi kabarnya. Hanya ada raut wajah kakakku yang sedih menanti kedatangannya hari demi hari… Menunggu janji-janji yang entah kapan akan ditepati…

Wahai orang-orang kota, ingatkah engkau pada jaman perjuangan kemerdekaan. Pada saat engkau menggungsi ke desa karena kotamu diluluhlantakkan oleh penjajah. Engkau jadikan desa kami tempat berlindung dan engkau sendiri menyamar sebagai penduduk desa. Saat itu engkau sama seperti kami yang tiap hari makan nasi jagung dan memakai caping gunung. Hingga pada saatnya engkau semua kembali untuk merebut kotamu dan memproklamirkan kemerdekaan.

Apakah engkau mengingat kami? Padahal kami ingin tahu kabar engkau, apakah engkau bahagia disana. Kalau engkau bahagia, tularkanlah kepada kami atau anak cucu kami dengan kesejahteraan. Caping gunung yang dulu sering engkau gunakan masih kami simpan.

Caping Gunung

Dhek jaman berjuang
Njuk kelingan anak lanang
Biyen tak openi
Ning saiki ana ngendi

Jarene wis menang
Keturutan sing digadang
Biyen ninggal janji
Ning saiki apa lali

Ning gunung
Tak jadongi sega jagung
Yen mendung
Tak silihi caping gunung

Sukur bisa nyawang
Gunung desa dadi reja
Dene ora ilang
Gone padha lara lapa

——————————————————

Ketika jaman perjuangan
Ku teringat laki-laki itu
Dulu aku rawat
Namun sekarang entah di mana

Katanya sudah merdeka
Terpenuhi apa yang diinginkan
Dulu dia berjanji
Namun sekarang apakah lupa

Di gunung
Kubawakan bekal nasi jagung
Kalau mendung
Kupinjami caping gunung

Syukurlah jika dia bisa melihat
Kini gunung desa makin ramai
Hingga takkan hilang
Kenangan dulu ketika susah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s