Aku dan Society


FIKSI

Banyak orang berkata,

“Apa yang kamu pikirkan itu terlalu berat.”, atau

“Kamu berpikir terlalu jauh.”

Mungkin saya memang suka segala sesuatu yang “berat”. Memang,

“Hidup ini simpel.”

Tapi entah kenapa segala hal yang berbau berat selalu menarik perhatianku. Novel-novel berat, tontonan berat, permainan berat, hingga humor-humor yang berat.

“Mau ketawa saja harus mikir dulu,” celetuk seorang teman ketika aku beritahu lelucon yang bisa membuatku ketawa.

Mungkin itu bukan berat, mungkin sebutan yang pas adalah berkelas.

Berkelas tinggi, yang tidak semua orang bisa memahaminya.

Seperti film-film besutan Christopher Nolan yang konon harus ditonton lebih dari satu kali untuk bisa benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan film tersebut.

Hingga kemudian datang seseorang dari Society. Orang itu sebut saja Socci, memang telah lumayan lama bergaul denganku. Dan dari situ aku tahu kalau dia mempunyai kesamaan denganku. Kita sama-sama suka dengan hal-hal berbau berat. Hal-hal yang melenceng dari arus mainstream. Namun entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan.

“Hey Harvey,” panggilnya mengajak mengobrol.

“Aku tahu~, kau suka hal-hal yang berbau berat. Hal hal yang filosofis.”

Memangnya kenapa?

“Aku juga suka… Aku juga suka hal-hal yang berat. Segala sesuatu ada filosofinya. Dan entah kenapa aku suka berpikir dan menganalisanya,” jabarnya.

Aku cuma tersenyum.

“Yeah, karena aku berpikir terlalu berat. Aku jadi tidak punya teman,” tiba-tiba nada bicara Socci berubah. Sedikit sarkasme. Aku lantas menoleh memandangnya, ingin tahu apa yang sebenarnya mau dia katakan.

“Kau pasti juga! Kau pasti mencari teman yang mempunyai kapasitas pemikiran sama dengan dirimu. Yang mempunyai daya analisa dan imajinasi mirip sepertimu.”

Aku diam mendengarkan.

“Kau tahu Harvey, sayangnya Society tidak menyukai orang-orang yang berpikiran berat…,” Socci berhenti sejenak dan memandang ke langit.

“Mereka mencari orang-orang yang santai, tidak berpikir terlalu banyak, down-to-earth, dan mungkin easy-going untuk dijadikan teman,” lanjutnya.

“Yeah, mungkin mereka berpikir orang-orang dengan pikiran tajam seperti kita terlalu berbahaya untuk berteman dengan Society,” tambahku sedikit bercanda.

“Tapi teman dan koneksi itu penting…,” balas Socci,”… dan ada cara bagi kita untuk bisa mendapatkan teman, mendapatkan apa yang selama ini tidak kita miliki.”

“Bagaimana caranya ?,” tanyaku penasaran.

“Hmm…,” Socci tersenyum sinis,”….caranya adalah…”

Kita menipu Society…

——————————————————————————————————————–

Beberapa tahun telah berlalu sejak percakapan yang mengubah diriku tersebut. Sejak saat itu aku menjadi orang yang polos, easy going, down-to-earth. Aku selalu mengatakan apa yang ada di pikiranku. Aku buat seakan Society tahu semua yang ada dipikiranku. Lambat laun Society pun menganggap aku orang yang simpel, polos, mungkin agak bodoh dan bukan orang yang pandai menganalisa.

Aku lantas mendapatkan semua yang aku inginkan, teman, pekerjaan, dan pacar. Aku menjalani hidup dengan memakai topeng innocence mulai saat itu.

Hingga aku menyadari sesuatu.

Society mulai memperlakukanku seenaknya. Mereka memanfaatkanku. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang menggunakanku. Bahkan pacarku sendiri mulai berani menguasaiku.

Mereka menganggap orang-orang easy-going seperti aku saat itu memang tepat untuk disuruh-suruh dan dimanfaatkan.

“Toh dia tidak bakalan komplain.”

“Haha Pikirannya polos sekali, dia pasti melakukan apa yang aku suruh.”

“Tugasmu cuma melakukan, biar aku yang memikirkan semuanya.”

Sejak saat itu aku mulai rindu berpikir, aku rindu menganalisa.

Aku rindu diriku yang menjadi otak, dan orang lain yang menjadi tangan kanan dan tangan kiriku.

Aku lantas mulai mengabaikan keinginan Society, aku mulai bergerak dengan kemauanku sendiri. Tidak ada yang bisa menggunakanku lagi.

Melihat tingkahku yang terkesan berkhianat, timbul rasa curiga dari Society. Mereka mulai tidak mempercayaiku, dan kemudian satu persatu dari mereka meninggalkanku.

Mereka meninggalkanku ketika aku memutuskan untuk menjadi diriku sendiri.

Pahit memang. Namun tidak apa, aku lantas mulai merencanakan untuk membalas dendam kepada Society.

Aku sudah lama bersama mereka. Aku tahu bagaimana sistem mereka bekerja. Bagaimana Society bekerja. Bagaimana kemasyarakatan bekerja.

“Asal kau tahu bagaimana sistem bekerja, kau pasti akan menemukan kecacatannya.”

Dari situlah aku mulai melancarkan seranganku. Dari kelemahan Society.

Keadaan pun sekarang berbalik. Society mulai bergantung padaku. Aku lantas mengendalikan Society seperti seorang mafia dari dunia hitam.

Saat itu aku teringat kepada Socci, orang yang pertama kali mengajariku untuk menjadi orang lain agar bisa masuk dan membaur ke dalam Society. Kadang aku ingin tahu, dimana dia sekarang?

Namun toh, itu bukan urusanku lagi. Semua kekayaan Society sekarang ada di tanganku. Bisnisku ada dimana-mana. Money, Power, Woman. Society sudah kukuasai dan kukendalikan.

Hingga suatu pagi, sekretarisku dengan tergesa-gesa menemuiku.

“Tuan, gawat tuan!,” teriaknya.

“Ada apa?,” tanyaku mencoba tenang.

“Kapal kontainer kita dibajak di perairan Somalia…”

“Bajak laut? Tidak usah khawatir, perintahkan polisi setempat dan agen kita di sana untuk mengurusnya.”

“Tapi tuan, dari laporan yang saya dapat mereka sepertinya bukan bajak laut…”

“Bukan bajak laut…? Lantas siapa…?,” tanyaku.

Apakah razia? Apa mungkin Society berniat balik untuk menyerangku? Pikirku dalam hati.

Sekretarisku dengan wajah khawatir kemudian kembali lagi dengan informasi terbaru yang dia katakan dengan terbata-bata.

“Kapal kontainer kita… ditangkap oleh CIA, Tuan…”

——————————————————————————————————————–

Perdagangan senjata, perdagangan obat-obatan terlarang, penyelundupan. Semuanya berskala internasional. Pabrik-pabrikku di beberapa negara mulai ditutup satu persatu. Aku tahu mereka pasti akan segera datang ke headquarters ini cepat atau lambat.

Untuk menangkapku.

Operasi yang dipimpin Socci ini bisa dibilang memporakporandakan semuanya.

“Aku akan menyambutmu Socci. Aku tidak pernah menyangka kalau kamulah yang menjadi wakil dari Society untuk membalasku,” pikirku dalam hati sembari tersenyum.

Aku kemudian melihat ke sampingku, dimana ada seorang wanita terikat berada di sana. Wajahnya terlihat sedih, dan air mata bekas menangis masih nampak di pipinya.

Namanya Rachel Renata Socci.

——————————————————————————————————————–

Aku memandang ke luar dari jendela ruanganku di lantai 35. Terhampar langit luas sejauh mata memandang, beberapa gedung pencakar langit tetangga seakan menjadi tonggak-tonggak yang mencuat dari permukaan awan.

Aku sadar tangan ini sudah sedemikian kotornya.

“Andai aku tidak pernah berpikir untuk berubah menjadi orang lain…”

“Andai aku membiarkan Society menerima diriku apa adanya…”

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s