Sahabat, Does Exist


Baru-baru ini, saya membaca sebuah postingan blog milik teman yang bertemakan, “Sahabat Ada Karena Kesamaan”, kalian saya beri waktu selama lima menit untuk membaca postingan tersebut di link ini, dan kemudian kembali lagi ke sini.

Sebelumnya, saya sudah lumayan sering membicarakan tentang hubungan pertemanan, salah satunya di postingan saya yang berjudul “Bicara Teman“, dan beberapa orang memang menerapkan garis keras dalam dunia pertemanan, seperti sebuah artikel yang pernah saya baca kira2 waktu SMP. Artikel itu menceritakan sebuah tokoh pengusaha yang konon memang keras dalam berteman, di artikel itu ditulis,

“Semua orang boleh berteman dengan saya, tapi tidak lantas karena menjadi teman saya, dia jadi boleh seenaknya.”

But, please man. That’s doesn’t means “persahabatan” is a bullshit.

Yeah, mungkin memang benar. Persahabatan ada karena kesamaan, seperti yang ditulis di postingan itu. Tapi tidak lantas hal itu menjadikannya mutlak.

  • Kadang saya yang senang dengan film Jepang, ingin tahu gimana bagusnya film2 Barat
  • Kadang saya yang hobi menggambar, pingin tahu gimana caranya memainkan suatu instrumen musik
  • Kadang saya yang hidup di “A” ingin tahu gimana rasanya menjalani hidup di “B”

Dalam mencari sahabat, saya seringkali mengandalkan intuisi, dan memang benar yang pertama kali dicari adalah kesamaan dalam sudut pandang/pola pikir. Intuisi saya berjalan sangat bagus waktu SMP hingga SMA, dan semoga di kuliah ini, walau memang banyak terpaan, intuisi saya masih berjalan baik untuk menemukan seseorang yang dinamakan sahabat sejati.

Misal, saya biasanya mencari orang yang cenderung pendiam, karena saya orangnya juga lebih ke pendiam. Dan itu bisa disesuaikan dengan bagaimana sifat Anda. Kalau Anda adalah orang yang rame, maka carilah sahabat yang mempunyai sifat serupa.

Salah satu sahabat saya waktu SMA, yang masih bertahan sampai saat ini, dan semoga sampai nanti, adalah seseorang yang dulunya saya temui duduk diam di pojok kelas dan masih memakai topi waktu kelas satu SMA.

Kemudian, carilah sahabat yang benar-benar doesn’t care what other people say. Mereka yang mau benar2 fokus pada hubungan persahabatan kalian. Sahabat-sahabat saya biasanya mempunyai sedikit-banyak teman, tapi kalau soal sahabat, mungkin mereka hanya bersahabat dengan saya.😀

Ada juga sahabat saya, sahabat akrab, sejak masa SMP. Namanya Patria dan Mirza, adalah dua orang kembar siam bersaudara yang dulunya kami sempat menghabiskan masa-masa bersama dalam kesamaan, sama-sama satu SMP, dan satu pemikiran. Namun keadaan kami yang sekarang terpisah, tidak lantas membuat ikatan persaudaraan tersebut putus.

TIPE ORANG

Ada dua macam tipe orang jika dilihat dari sudut bagaimana cara mereka berteman, yang pertama adalam orang-orang yang berteman dengan banyak orang, namun hanya mengenal mereka dari luar. Sedangkan tipe yang kedua adalah mereka yang berteman dengan sedikit orang, namun mereka benar-benar ngerti gimana orang tersebut luar dalam, boleh jadi mereka hanya punya sedikit teman, tapi teman mereka adalah sekaligus sahabat dekat mereka.

Saya adalah tipe yang kedua, karena itu saya mempunyai pikiran seperti ini, walaupun ibaratnya seluruh dunia menentang saya, saya masih punya beberapa, segelintir orang yang akan ada di belakang saya, dan membantu sebagai sahabat.

Namun, orang dengan tipe yang kedua, kadang-kadang juga menemui masalah, mungkin karena pemikiran yang pesimis, mereka jadi kehilangan sahabat-sahabat mereka, dan menjadi tidak punya teman ! Kemudian apabila mereka mencoba berubah menjadi orang tipe pertama, pertemanan atau persahabatan yang ditawarkan olehnya adalah hal yang palsu~ Karena pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang lebih intim, lebih cocok untuk berteman dengan satu dua orang yang benar-benar saling mengerti satu sama lain, dibandingkan tipe yang pertama.

“Sahabat adalah keluarga yang harus kita pilih, sedangkan keluarga adalah sahabat yang harus kita terima.”

Kita harus berteman, berteman dengan siapapun. Dan salah satu tantangan yang saya alami saat ini memang berkaitan tentang hal itu, khususnya tentang bagaimana cara menerima semua teman kita apa adanya. Sebagaimana mereka apa adanya. 

Kebanyakan orang ingin mencari orang yang tepat bagi dirinya, namun hanya sedikit orang yang mencoba menjadi orang yang tepat, bagi orang lain.

Tapi kalau tentang sahabat, mau tidak mau memang kita harus pilih-pilih. Bagi orang yang cenderung pendiam dan pemalu seperti saya, mungkin kita bisa menggunakan teknik layering informasi, jadi informasi yang ada di layer luar-lah yang bisa diketahui semua orang, namun informasi layer dalam hanya boleh diketahui oleh sahabat-sahabat kita.

Karena mau tidak mau, sahabat-sahabat itulah yang nantinya akan menjadi bagian dari keluarga kita.

Liburan semester enam ini, bekas teman satu SMP saya, Patria dan Mirza masih sering datang berkunjung ke rumah, tapi mereka kadang datang sendirian, karena di saat itu saudara kembarnya sedang ada shift kerja.

Hingga di suatu hari, di saat saya harus menyiapkan kepergian untuk kembali merantau di Bandung, si Patria jam tujuh pagi sudah ada di depan rumah saya.

Saya sontak terkejut, dan agak jengkel juga, karena kenapa di saat-saat sibuk saya yang harus menyiapkan segala sesuatu untuk kembali ke Bandung, ada seorang tamu yang tidak diundang… haha

Lantas saya jelaskan duduk perkaranya, bahwa hari ini saya akan sangat sibuk, dan mungkin tidak ada banyak waktu untuk menemaninya. Dia bilang, “It’s okay.” Dan karena sudah seperti di rumahnya sendiri dia juga nggak canggung lagi.

Kemudian, lewat tengah hari dia pulang~

Melihat kejadian hari itu, nenek saya berkata,

“Eh, itu temanmu udah tau kalo kamu lagi sibuk kok tetep aja main ya~ Tapi, nggak apa-apa, karena yang begitu itu, menandakan kalau dia memang benar-benar temanmu”

 

Masih ingatkah tentang pepatah lama, sesibuk-sibuknya dirimu, sebaiknya tetap luangkanlah waktu untuk menikmati secangkir kopi bersama sahabat~

Berjanjilah untuk berhenti mengatakan hal yang menyedihkan, seperti, “Aku tidak percaya lagi dengan orang lain.”

Regards

TWOH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s