Thought on Thought


Kadang-kadang, kita berpikir terlalu kompleks.
We overthink something.
Dan itu mungkin bagi beberapa orang adalah wajar.

Yang aneh adalah perasaan awkward ketika saya membaca tulisan seseorang tentang sesuatu yang seharusnya simpel, namun dibuat kompleks.

Analisa yang kompleks. Haha

Full of Theory.

Mungkin kalian berpikir postingan ini juga termasuk, tapi tidak, tulisan ini disengaja agar terlihat sesimpel mungkin dan enak dibaca.

Jadi
Jadi tadi saya iseng-iseng membaca blog tumblr milik temen-temen.
Blog/Tumblr? (pilih salah satu)
Oke, blog tumblr.
Dan saya agak kaget juga karena dari blog tumblr-blog tumblr mereka, nampaknya sedikit yang benar-benar menikmati masa muda. #aseek
(Sebenarnya seperti saya juga)

So, curhatan, kegalauan, impian-impian yang gagal dan terlupakan. #aseek

Dan juga pencapaian.

(Galau kan juga bagian dari masa muda? | Ok2 I understand :D)

Beberapa orang memang dikaruniai oleh kelebihan yaitu mereka pintar dan bisa berpikir kompleks.
Orang-orang tersebut terkadang tetap bisa menghasilkan kinerja maksimal walau dalam tekanan.
Dan mereka pintar, sehingga waktu-waktu senggang mereka lebih dihabiskan untuk berkreativitas, termasuk juga menulis.

Tapi kalau saya bisa meminta, saya lebih memilih jadi orang yang biasa-biasa saja. (Jadi lo ngerasa pinter? | Enggak juga sih.)

Sekitar setahun setelah kelulusan SMA, kami mengadakan reuni kelas, dan di sana perubahan-perubahan di antara teman-teman mulai terlihat.

Salah satu teman saya, nyeletuk ke teman saya yang lainnya, sebut saja Tu,
“Tu, kamu kok tetep kurus aja? Nggak gemuk-gemuk.”

Dan Tu menjawab, “Iya, energiku habis dikonsumsi otak kebanyakan mikir soalnya”.

Kebanyakan mikir.

Stress.

Orang-orang dengan gejala-gejala(?) seperti itu, biasanya memang kelihatan lebih kurus dari biasanya, bermuka pucat, dan pandangan mata seolah mengambang entah kemana.

Dan orang pintar nyatanya lebih gampang stress, baik sesaat maupun berkepanjangan.

Saya sering melihat temen-temen saya yang pintarnya selangit, gimana mereka kelabakan saat diberikan tugas kuliah atau pekerjaan yang di luar kemampuan. Mulai dari jalan gak tentu arah, ngomong nyeracau, lupa nama temen sendiri, dan lain sebagainya. hahaha

Tapi itu cuma sesaat, ketika tugas sudah kelar, everything back to normal.

Stress mereka cuma sesaat, tapi kepintaran mereka mungkin bertahan untuk selamanya.

Ayah saya pernah bilang
“Begitu itu wajar, seseorang yang ahli di suatu bidang dan tidak ahli di bidang lainnya.”

Jadi, bagi kalian yang ahli di bidang desain, coding, menulis dan lain-lainnya, bersiaplah untuk merasa takut.

Ibaratnya Tuhan ngomong sama kita, “Lo boleh pinter ini itu, tapi lo harus ganti sama satu bidang yang lo bakalan jadi scumbag di bidang itu.”

Dan dari yang saya amati, kebanyakan bidang yang tidak mereka kuasai adalah…

SOAL ASMARA.

Yups, hubungan dengan lawan jenis.

Saya enjoy talking dengan orang-orang pintar, unik, kreatif dan berwawasan luas, tapi agak sedih juga ketika tahu kebanyakan dari mereka itu single. LOLWTF.

Ya, entah ini budaya Indonesia, atau apa, atau apa, bla-bla…(mulai mencari kesalahan)

Tapi entah, hal itu juga yang membuat beberapa orang, termasuk saya menjadi takut memiliki predikat pintar atau genius, dan perlahan-lahan mulai menguburnya dalam-dalam. #alah

Yang pertama, kebanyakan laki-laki mencari wanita yang lebih pintar darinya.
Oke, blak-blak-an aja, laki-laki kalau menurut saya tidak didesain untuk menjadi teoritis dan pemikir, mereka lebih diunggulkan untuk melakukan real action, dan memecahkan real world’s problem.

Sedangkan wanita, kebalikannya, lebih pemikir, perasa, selalu dihinggapi perasaan ragu,”bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu…?”,suka membaca, suka menulis, catatannya rapi, selalu menjadi kitab suci menjelang ujian bagi pemalas seperti saya.

So, ketika dihadapkan kepada suatu masalah laki-laki cenderung melakukan trial and error, fuck this shit, mencoba mencari solusi terburuk yang masih bisa bekerja. Dan ketika mereka gagal memecahkan masalah tersebut, mereka cuma diam dan memendam kegagalan itu di dalam hati.

Tapi ketika suatu saat mereka bertemu dengan hal-hal yang mengingatkan tentang kegagalan mereka, mereka punya perasaan,”Aku pernah gagal dalam hal ini…”

Lalu mereka kabur.

Untuk mencari masalah(?) lain yang bisa dipecahkan.

Atau mungkin berusaha sekali lagi.

Sedangkan buat wanita, ketika punya masalah, insting sosial mereka mulai bekerja, mereka akan curhat sana-sini, cari saran dari orang-orang yang mereka percayai, dan tidak beraksi sebelum mereka memastikan secara hati-hati, bahwa langkah yang akan dia perbuat setidaknya mempunyai resiko terkecil dalam menyakiti perasaan mereka. (Dan biasanya ini kami gagalkan hahaha, sorry girls if we boys ever hurts you, but at least keep spreading love.) Dan mereka lebih berorientasi memecahkan masalah secara bersama-sama, “kita”, bukan “aku”.

Ketika gagal, mungkin mereka akan menangis semalaman (tergantung masalahnya juga sih O.o ), seakan-akan itu adalah akhir dari dunia.

Namun keesokan harinya, mereka akan kembali seperti biasanya, seolah-olah tidak ada apa-apa.

Kembali lagi soal laki-laki yang cenderung cari wanita yang lebih pintar darinya.

Bagi laki-laki biasa aja, stok wanita banyak.
Sedang bagi laki-laki pinter, jika manut aturan di atas, maka stok wanita menipis, #DAFUQ, dan sisanya itu juga adalah wanita-wanita GEEK.

And we don’t want them.

Tapi pintar itu banyak jenisnya, dan kita tidak ingin wanita yang cuma pintar memasak, merawat tubuh(?), menjaga anak-anak, tapi juga pintar menganalisa pasar, manajemen keuangan, melihat peluang bisnis, menjaga bisnis keluarga dan lain-lain.

Sayangnya, tipe-tipe wanita seperti itu biasanya already taken by laki-laki yang bahkan Kalkulus I dan duanya mendapat D.

Dan laki-laki pintar, were left alone.

Sebabnya kenapa? Karena laki-laki pinter itu kebanyakan mikir, daripada action! buahahaha

Jadi iseng-iseng saya melakukan percobaan, dari semester kemarin lebih tepatnya, saya coba menjalin hubungan intensif dengan beberapa teman wanita dari berbagai kalangan, dan semuanya beyond my expectation.

Yang pertama adalah teman saya, kerjanya bisa SPG, usher, model dan apapun itu yang saya nggak begitu peduli.
Jadi kami mulai keluar tiap weekend dan ngobrolin berbagai macam hal.
She’s troubled with her ex.
Saat keluar, saya nggak pernah ngeluarin uang sepeserpun, alias dia terus yang bayarin (nggak tau harus malu atau bangga).
Setelah beberapa kali kita encounter meeting(bahasa gaulnya ketemuan). Saya pun kerumahnya (lupa udah ke sana berapa kali O.o). Dan ternyata memang don’t judge a book by it’s back cover. Perempuan yang biasa saya kenal selalu pakai lensa kontak, dandanannya modis, high heels, rumahnya ternyata, maaf, sederhana, berantakan, dan bahkan untuk menyuguhi saya minum dia mengambilkan gelas dengan AQUA di depannya, alias AQUA gelas.

Tapi saya salut, berderet-deret piala perlombaan model dan menyanyi berjajar di ruang tamu nya.

Jadi saya nggak heran lagi, dan jangan cerita ke saya soal gimana orang-orang hebat itu masa kecilnya kebanyakan sengsara, I’ve seen it with my own eyes.

Dia bilang :

“Masa depanmu itu sudah pasti.”
“Kamu itu orang yang berorientasi masa depan, bahkan kadang kamu kayak nggak berada di sini, sekarang.”

Walau saya berkali-kali membalas, dengan menjelaskan bahwa masa depan saya itu masih abstrak, dia tetap keukeuh dengan pendapatnya.

“Aku takut kalo jatuh, soalnya kamu kurus banget,” saat dia saya boncengin. Maklum dia tinggi, dan berpostur ideal, sedangkan saya tipe-tipe meniak coding yang berjalan agak bungkuk ke depan(hiperbola).

Terakhir, saya ajak dia jalan-jalan malam hari, nongkrong, ngobrol (oh iya, dia perokok), dan kemudian pulang.
Dari yang saya lihat, dia kelihatan gembira.
Sebelum berpamitan kami bahkan janjian buat ketemuan lagi besok, cari hadiah buat temennya yang mau ultah.

“Nanti BBM aja ya kalo jadi, eh tapi jangan kepagian, siang-siang aja sekitar jam…”

BLANK

Seiring dengan sosok laki-laki yang menghilang dari sampingnya, dia mungkin mulai sadar akan kesalahannya, atau perasaan kesepian yang mulai menghinggapinya lagi.

Esoknya, tidak ada BBM yang diterima kecuali dari temennya (cewek juga) yang mulai menanyakan hal aneh-aneh.

Mungkin seharusnya saya tidak meninggalkannya, malam itu. (mulai melebayh)

Dia dulunya SPG, (walau terakhir saya tanya dia sudah menolak tawaran2 untuk “job”), dia merokok. Saya nggak tahu bagaimana anggapan orang-orang, termasuk kalian yang sedang membaca tulisan ini, tapi saya percaya dia nantinya akan menjadi perempuan yang hebat, asal dia mau berubah, alam akan menjunjungnya ke strata sosial yang lebih tinggi. Dan saya lihat kemauan itu ada, dan dia benar-benar berjuang.

Itu satu cerita~

Kemudian cerita lainnya, kalau sama yang ini saya belum pernah ketemu, karena kita percaya bahwa pertemuan kita akan menjadi sesuatu yang spesial, jadi itu tidaklah mudah.

Tapi saya gempur dia lewat sms (haha klise), tulisan-tulisan romantis.

Walau begitu, ada satu hal yang membuatnya tidak bisa memberikan lebih, dan saya pun sudah menganggapnya sebagai teman.

Tapi dia menganggap saya sebagai, “my very very special best friend.”

Dan setelah saya pikir-pikir, yang pertama, itu bukan yang saya inginkan, kemudian, saya sendiri tidak ingin nantinya, katakanlah, pacar saya menjalin hubungan seperti itu dengan laki-laki lain.

So, I must CUT IT OFF WITH MANLINESS.

Lama saya tidak memberi kabar apa-apa ke dia, kemudian selang beberapa bulan, hape saya menerima sms dari nomor seseorang yang biasa saya kenal.

———————————————————————————

Kalau dipikir-pikir, itulah beberapa usaha saya untuk menjadi laki-laki yang tidak pintar.
Laki-laki pinter, seperti yang saya bilang mengutamakan pikiran daripada action, jadi meski hubungan belum terbentuk, mereka sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan untuk gagal.

Saya dulunya juga begitu, tapi “Kamu itu terlalu mikir kejauhan” menjadi bagian dari diri saya yang saya ingin hilangkan.

Sekarang saya belajar untuk santai.

Tidak overthinking.

“Kamu nggak iri cuy, lihat temen-temenmu yang pada 3.5 tahun?”

Sebenarnya itu tergantung dari keadaan kalian.
Kalau kalian merasa “jalan” ini adalah yang terbaik maka, whatever.
Kalau kalian masih belum yakin dengan pilihan kalian, akan ada rasa iri.

Itu mengingatkan tentang masa-masa dimana saya masih rajin belajar.

Dimana nilai adalah segalanya.

Dimana saya membiarkan diri kalian diukur berdasarkan nilai.

Saat itu, saya merasa dikendalikan.

Dan orang-orang pintar, akan terus dikendalikan, oleh orang-orang yang lebih pintar lagi.

Yang saya maksud pintar, bukan memiliki IPK 4.00.

Tapi “pintar” itu adalah di keadaan apapun, kalian tetap bisa survive.

take it easy.

I don’t give a shit about that.

Saya tidak menyuruh kalian untuk hidup seenaknya sendiri, kalian harus tetap menetapkan standar-standar hidup buatan kalian sendiri.

Kesimpulannya, pintar itu tidak menarik.
Orang yang pintar, memikirkan semuanya dengan serius, itu dickhead.

Apalagi bagi wanita.

Cukup tunjukkan bahwa kalian itu pintar.

Tapi, bukan yang ter-pintar.

Karena kita sudah ada Stephen Hawking di posisi itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s