Pencapaian, Kegagalan dan Java


Pencapaian tidak lepas dari kegagalan. Saya lebih suka menyebut kegagalan dengan GAGAL, gagal total, hancur lebur. Gagal ya gagal, tidak ada istilah seperti kesuksesan yang tertunda dan sebagainya. Karena itu, di saat menghadapi kegagalan saya sering merasa benar-benar hancur lebur. Namun dari kehancuran itu, seringkali tumbuh sayap.

Kegagalan Apa?

Pada saat-saat kuliah ini, sejak semester satu. Atau lebih tepatnya sejak Masa Orientasi Siswa dimana saya diajak Senior berkeliling kampus, saya sudah sangat ingin menjadi asisten laboratorium, entah itu asisten riset, atau asisten praktikum. Dan saya akan menceritakan sepak terjang saya di dunia rekruitasi, 90% gagal memang, tapi keberhasilan yang cuma 10% bakalan terasa sangat manis. Mungkin kenapa saya berjuang, katakanlah, Andai saya punya teman yang sudah menjadi seorang asisten laboratorium, bukanlah mudah untuk kemudian menyusupkan saya lewat pintu belakang? Ya, mungkin memang seperti itu. Tapi itu orang lain dan pastinya bukan seseorang dari marga Herdi. Karena itu, demi apapun, saya ingin mencoba sejauh mana kemampuan saya. Saya ingin orang-orang mengakui saya dari kemampuan saya, dan bukan yang lain.

Kemudian di Semester 2, saya mencoba untuk masuk ke salah satu laboratorium yang ada di kampus saya, yaitu Laboratorium Dasar Komputer untuk menjadi asisten praktikum. Ujian demi ujian saya jalani. Waktu itu yang pertama adalah Tes Teori dan disediakan soal tentang bahasa Pemrograman, Alhamdulillah saya lulus. Dan kalau tidak salah masuk ke peringkat 15 besar dari pala calon asisten.

Seminggu kemudian saya menjalani Tes Kedua, yaitu tes Praktikum Pemrograman. Di tes tersebut walau dengan skill yang terbatas, saya berhasil lolos meski dengan tertatih-tatih. Dan entah kenapa saya masih saja bertengger di posisi 6 besar atau sepuluh besar, dari total lima puluh peserta. Bahasa pemrograman yang digunakan waktu itu adalah bahasa Pascal.

Mungkin Anda heran, saya ini bercerita tentang kegagalan. Tapi kok dari tadi yang dibahas soal keberhasilan melewati ujian dan bahkan sampai masuk ke daftar atas di peringkat? Mana kegagalannya?

Well, tidak ada orang yang orang expert di semua bidang. Di atas awan, masih ada awan. Anda mungkin pintar di bidang Hukum, tapi sama sekali tidak mengerti soal Biologi. Itu wajar, sama halnya dengan saya. Saya bisa saja pintar dalam hal komputer, tapi ada salah satu kelemahan saya, dan itu adalah Tes yang Ketiga.

Tes Wawancara dan Mengajar

Sampai kegagalan-kegagalan yang menyusul setelah ini. Saat itu saya sama sekali tidak tahu, kalau saya punya kelemahan saat menjalani wawancara dan tes mengajar. Saya tidak tahu kalau confidence is important. Percaya diri. Rendah hati, bukan berarti rendah diri.

Tes mengajar saya sempat grogi, ah itu biasa karena peserta yang lain juga begitu. Namun karena I’am never learned from the past, kesalahan yang sepele muncul pada saat tes wawancara. Saya lupa bawa bolpoin. 

Sumpah! Kesalahan yang sangat sepele bukan? Tiga dosen lain fakultas yang mewawancarai saya pun sontak tertawa dan berkelakar, “Kamu ini gimana? Mau perang, kok nggak bawa senjata.” Dan itulah yang meruntuhkan mental saya, walau saya tetap berusaha di wawancara itu. Namun hasilnya adalah, SAYA GAGAL.

Semester Tiga

Tidak menyerah, pada semester tiga yang lalu saya tetap mencoba untuk mendaftar menjadi asisten praktikum, kali ini saya mendaftar untuk sebuah Laboratorium Praktek di Fakultas Informatika, fakultas saya sendiri.

Everything going smoothly, tes teori, tes praktek. Saya lulus, bahkan saya masih berada pada tingkatan peringkat atas. Dan sampai akhirnya tibalah tes yang telah dinanti-nanti.

Tes Wawancara dan Mengajar

I’m never learned from the past. Mungkin itulah motto saya yang paling buruk. Saya percaya, motto tidak harus baik, boleh buruk, asalkan keren. Pada saat tes mengajar, saya mendapatkan bab yang sama dengan waktu saya tes mengajar pada rekruitasi asisten tahun lalu. Bahasa pemrograman yang sama, Pascal. Bab yang sama, Procedure and Function, dan… Kesalahan yang sama. Saya tidak akan menjelaskan secara teknis di bagian mana tepantnya saya salah. Tapi itu adalah sangat memalukan, seekor keledai saja tidak akan terjerumus ke lubang yang sama dua kali. Selesai tes mengajar, saya berkata dalam hati. Ah, lupakan. Dan berlanjut ke tes wawancara. Dan hasilnya adalah, SAYA GAGAL.

Seakan bernyali besar, saya tetap mencoba untuk masuk ke dalam sebuah laboratorium. Bahkan saya sempat, menurunkan harga pasaran. Menurunkan standar. Sesuatu yang kemudian saya sesali dan tidak akan pernah saya ulangi. Standar berbanding lurus dengan umur, semakin banyaknya umur, harus semakin tinggilah standar. Itulah motto saya yang lain. Standar bagaimana yang saya kurangi? Kali ini saya mencoba untuk mendaftar, sebagai anggota study group. Saat itu saya berpikir apa mungkin impian saya ketinggian ya, dan mencoba untuk mendaftar yang rendah-rendah saja. Kalo sekadar study group,  bisalah, pikir saya.

Wawancara Study Group

Karena hanya berbentuk kelompok belajar, maka tes-nya pun tidak begitu banyak. Hanya ada tes teori, yang bisa dibawa pulang dan tes wawancara. “Lagi-lagi wawancara! Apa lagi yang akan saya temui?,” pikir saya. Dan kemudian saya utarakan apa-apa yang ditanyakan oleh si pewawancara, Ketika sampai pada pertanyaan yang berhubungan dengan kemampuan, entah kenapa, pewawancara malah balik tanya, “Apa itu eMacs?”, dan beberapa pertanyaan lainnya. Dan dari situ saya sadar kalo idealisme saya, dan idealisme si pewawancara saling-silang. Saya juga sadar kalau tujuan lab tersebut, berbeda dengan harapan saya. Dan, dapat ditebak, SAYA GAGAL. Mendengar kabar saya gagal, ayah saya sempat berkomentar, “Kamu itu nggak cocok belajar bareng-bareng. Study group segala. Belajar sendiri aja, kemampuanmu itu bapak percaya udah di atas yang lain.” And that’s a relief.

Try, Catch, and Finally

That’s All, itulah semua. Saya mencoba dan terus gagal. Beberapa orang bijak menambahkannya dengan kata-kata, karena itu jangan pernah mencoba. Tapi, dari pengalaman tersebut saya jadi tahu tentang pentingnya take a risk. Selalu ambil resiko. Kalau kamu sukses, kamu akan gembira. Kalau kamu gagal, kamu akan menjadi bijaksana. Bahkan untuk ukuran seseorang seperti saya yang, never learned from the past. Anda harus sadar kalau di setiap kegagalan ada pelajaran yang bisa diambil

Saya belajar dari Java, di Java itu, waktu terjadi kegagalan (Exception), pasti akan ada sesuatu yang dilempar (Throw). Begitu juga dengan saat Anda mengalami kegagalan, kegagalan itu akan melemparbalikkan ke Anda banyak hal, hikmah, pengalaman, pelajaran, emosi, keinginan untuk bangkit, dan lain sebagainya. Anda hanya perlu menangkapnya, tangkap semua. Kalau nggak dong, tangkap saja apa yang Anda mengerti. Begitu, Exception, Catch. Ada Exception lagi Catch lagi! Begitu seterusnya. Sewaktu Anda Gagal, tangkap Maknanya. Gagal lagi? Tangkap Pelajarannya. Tangkap, dan terus tangkap semua hal yang “dilemparkan” oleh kegagalan yang menimpa Anda. Jadikanlah itu sebagai pengalaman, hingga akhirnya Anda sampai pada bagian dimana Anda berkata, Finally…

 

Hafizh Herdi Naufal, AsLab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s