Lebih Dalam Tentang Social Network


Bicara tentang social network atau jejaring sosial, kita bisa flash-back dahulu ke beberapa tahun yang lalu, saat Yahoo! Messenger dan mIRC masih marak. Boleh dibilang itulah awal dari jejaring sosial, itulah awal dimana manusia bisa berkomunikasi dengan manusia lainnya di internet, di dunia maya, dan bersosialisasi.

Source : xkcd.com

Source : xkcd.com

Pada awalnya, manusia hanya butuh mengobrol dengan manusia lain, dengan disertai profil ala kadarnya. Namun seiring waktu, manusia ingin lebih memperkenalkan dirinya dengan lebih lengkap, manusia ingin dikenal lebih spesifik dengan profil yang lebih kompleks dan lebih bisa membedakan dirinya dengan orang lain di internet. Karena itu lantas dibuatlah sebuah jejaring sosial, atau social network. Dimana manusia bisa memperkenalkan dirinya ke dunia luar, melalui identitas-identitas, dan simbol-simbol, berupa hobi, aktivitas, foto-foto, relasi, pekerjaan, biografi dan lain-lain. Dan kemudian satu manusia itu ibaratnya menjadi satu node, yang dibungkan dengan vertex sosial ke manusia lainnya, hingga terbentuklah suatu network, suatu jaringan, yang mana kita bisa bersosialisasi di dalamnya, yang kemudian dinamakan social network.

Jejaring sosial yang pertama kali, saya sendiri kurang tahu, namun saya mulai menggunakan fasilitas seperti ini di tahun 2006, saat itu sedang booming Friendster. Sebuah situs jejaring sosial yang sekarang telah berubah menjadi gaming platform. Saat itu, teman-teman saya di kelas ramai ngomongin, “Eh, add Friendster-ku ya!” Saya yang sebelumnya tidak tertarik dengan jejaring sosial, iseng-iseng mendaftarkan akun Friendster saya yang pertama kali di sebuah warnet. Tentu saja dengan nama palsu dan foto profil palsu. Saat itu saya hanya mencoba Friendster untuk bermain-main, alhasil bagian testimonial and comment saya penuh dengan percakapan dengan gadis-gadis. Maklum waktu itu masih masa puber-pubernya.

Kemudian saat saya beranjak kelas tiga SMA, atau tahun 2008 awal, saya bergabung dengan Facebook, saat itu saya sungguh tidak mengira Facebook yang awalnya saya benci karena tidak mempunyai fitur custom layout, menjadi sebesar ini. Teman saya yang menyarankan agar bergabung dengan Facebook cuma berkata, “Aku ikut Facebook hanya untuk cari teman di luar negeri.”, sambil tersenyum meringis.

Setelah itu, tahun 2009 saya bergabung dengan microblogging Twitter, entah apakah Twitter termasuk ke dalam kategori jejaring sosial atau bukan, tapi dilihat dari banyaknya orang-orang dan teman-teman orang-orang itu yang mungkin kebingungan menggunakan media komunikasi yang seabreg banyaknya, sehingga mereka pun mengobrol dan saling mention lewat Twitter.

Manusia berkicau.

Tagline Twitter yang seharusnya “Follow your interest”

Menjadi “Follow your friend”

Nyanyian manusia yang gagah tak terdengar lagi di dunia nyata

Tergantikan mention dan hash-tag dalam manuskrip maya

TWOH, Semarang 6 Juli 2011,

Haha… Itu cuma sajak iseng buatan saya! Well, begitulah kira-kira gambaran betapa manusia sekarang sudah kehilangan daya bersosialisasi sehingga harus dibantu dengan berbagai macam jejaring sosial, atau, apapun itu, jejaring sosial membuat komunikasi kita menjadi berkali-kali lipat lebih mudah dari sebelumnya. Hingga sekarang saya kadang bingung kalau mau menghubungi teman, apakah lewat :

  • sms biasa
  • Facebook’s wall
  • Facebook’s message
  • Facebook’s chatting
  • Twitter’s mention
  • Twitter’s direct message 
  • MySpace’s comment
  • MySpace’s message
  • panggilan teleponi

dan, guess what? Semua pilihan tersebut bisa saya miliki hanya dengan bermodalkan sebuah BlackBerry handheld, belum termasuk pilihan dengan menggunakan fasilitas messenger, yang lumayan komplit dari BlackBerry Messenger sampai AOL Messenger. Semua itu hanya mempunyai satu tujuan yang sama, bersosialisasi.

Namun, itulah juga yang menyebabkan orang-orang lupa bahwa sosialisasi di dunia nyata adalah nomor satu. Sehingga tidak jarang lagi kita melihat dua orang teman duduk berdampingan dan keduanya sama-sama menatap layar persegi di depan mereka.

Jejaring sosial : Menjauhkan (secara real) yang dekat, mendekatkan (secara virtual) yang jauh

Akibatnya, manusia menjadi mempunyai rasa kecanduan, rasa ingin tahu yang berlebihan, tentang apa saja aktivitas yang dilakukan teman mereka, pada detik ini, dimanapun teman mereka berada. Dengan terus mengikuti linimasa Twitter, maupun update status Facebook, apakah itu penting? Tidak sama sekali.

Di samping itu, manusia juga merasa satu-satunya tempat untuk berkumpul dan berinteraksi dengan makhluk sesamanya adalah melalui jejaring sosial, karena itu mereka kemudian diam berjam-jam di depan monitor, berkomen-ria, wall-wall-an, chatting, update status, dan lain sebagainya. Dimana bercengkerama klasik, mengobrol dengan ditemani secangkir teh hangat, menempuh perjalanan beberapa menit hanya untuk bertemu teman dan mengobrol di depan teras sembari memandangi halaman beserta orang-orang yang lalu-lalang, mungkin sudah secara total mereka lupakan.

Seakan merasa belum cukup, jejaring sosial kemudian didatangi oleh pemain baru, Google +, atau bisa dibaca Google Plus. Dengan fitur-fitur yang menurut saya tidak ada yang benar-benar baru. Sehingga salah seorang komikus internet menyindirnya melalui komik yang ada di bagian atas postingan ini. Komik itu secara gamblang menceritakan bahwa, seorang wanita mengajak teman prianya untuk bergabung ke dalam Google +. Karena baru pernah dengar, dia pun bertanya, “Emang, apa sih Google Plus?” Dan si cewek mungkin dengan agak bingung ngomong, “Itu bukan Facebook!”, yang ditanggapi dengan si pria, “Kalau gitu, Google Plus itu kayak apa?”

 “Facebook”,  jawab si cewek penuh kontradiksi.

Kisah pada panel selanjutnya menceritakan si pria lantas berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan, “Ya Tuhan~ Aku rasa, itulah (Google Plus) yang benar-benar aku inginkan.” dan kemudian mengeklik sesuatu yang secara tidak langsung menyiratkan kalau dia kemudian memilih untuk bergabung dengan Google Plus. Padahal dia memutuskan untuk bergabung di Google Plus setelah tau kalau fitur-fitur yang ada di sana sama dengan fitur-fitur pada Facebook!

Google Plus hanyalah barang lama yang dikemas dengan cara yang lebih baru, menurut saya. Dan dengan semakin maraknya jejaring sosial di internet, maka kehidupan ini akan berubah ke arah yang tidak bisa kita prediksi. Dan dua golongan orang-orang di bawah ini, akan menjadi orang-orang yang menarik, berdasarkan penggunaan jejaring sosial mereka, yaitu :

  1. Orang-orang yang tidak menggunakan jejaring sosial
    Mereka benar-benar hidup di dunia nyata to the fullest. Mereka berpikir internet adalah tempat yang berbahaya untuk berkenalan dengan orang lain. Dan, mereka berpikir komunikasi dengan orang lain bisa dilakukan way better daripada menggunakan jejaring sosial. Merekalah orang yang berkarakter kuat.
  2. Orang-orang yang sukses menggunakan jejaring sosial
    Mereka menggunakan jejaring sosial for the sake of real life, untuk mendukung kesuksesan mereka di dunia nyata. Mereka melakukan personal branding. Menjadikan profil mereka sebagai sarana memikat pelanggan, penggemar, atau orang lain yang berpikir “orang ini ahli di bidangnya”. Profil mereka berisi portfolio dari proyek-proyek mereka tentang kemampuan yang benar-benar mereka kuasai.

That’s it.  Sekarang tinggal, bagaimanakah cara Anda menghadapi jejaring sosial?

Atau, mungkin bisa juga menggunakan cara yang Bapak saya ajarkan,

Bersikaplah seperti orang China, bukalah jejaring sosial, kalau nggak ada hal-hal yang penting. Tutup.

Sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s