Bicara Teman


Suatu sore saya bersama salah seorang teman dekat nongkrong di J Co, kami bercakap-cakap sambil menikmati hiruk pikuk-nya salah satu pusat perbelanjaan di kota Semarang. Setelah beberapa lama, teman saya itu beranjak dari tempatnya untuk membayar tagihan, lalu saya pun mengikutinya dengan maksud supaya kami membayar tagihan makan dan minum sendiri – sendiri. Namun ketika saya hendak beranjak, teman saya itu langsung berkata, “Nggak usah takbayarin semuanya wae.” Sontak saya ngerasa nggak enak, “Wah ngapain, gak usah repot-repot, bayar sendiri-sendiri wae.” Dan teman saya menjawab dengan agak ngotot,
“Dah nggak apa-apa, ini tanda pertemanan kita Fizh.”

Saya kemudian diam dan menyetujui, tapi di dalam hati saya ngerti bener maksud temen saya ini. Dia pingin mbayarin karena dia nganggep saya temannya. Sebagai tanda pertemanan, yang berarti kalo saya tetep ngotot ingin bayar sendiri, saya secara tidak langsung menolak hubungan pertemanan kami. Sebuah kalimat yang baru pertama kali saya dengar dari seseorang. Sama halnya dengan kata-kata yang jarang saya dengar dari orang-orang di Indonesia, “Maukah kamu jadi temanku?”, atau, “…Aku melakukan ini, karena kita adalah teman.”

Well, ini postingan tentang teman. Dan saya ingin sedikit bertanya kepada kalian. Seperti apakah teman itu? Bagaimanakah kalian menganggap teman kalian? Apakah hanya dengan kebetulan mendapat kelas yang sama, lantas kalian menyebut orang-orang yang sekelas dengan kalian itu teman? Untuk pertanyaan yang terakhir, jawaban saya adalah “tidak”. Walau begitu, saya tetap berusaha ramah kepada semua orang.

Beberapa hari yang lalu, saya menonton sebuah film Jepang, dimana ada adegan seorang cewek dan seorang cowok, mereka sudah kenal dan merupakan teman sekelas. Ketika sedang ngobrol santai berduaan, tiba-tiba seorang teman lainnya datang, dan mengejek si cowok, “Wah-wah-wah, siapa gadis itu? Pacarmu yah?” Karena kaget si cowok langsung njawab, “Bukan !”. Si teman tadi masih belum menyerah dan bertanya, “Lalu siapa ? Temanmu-kah?” Dan dengan wajah agak menunduk si cowok ngomong, “Juga bukan…” Mendengarnya lalu sang cewek wajahnya terlihat kecewa, dan menunduk. Quite cute.๐Ÿ™‚

Dari “scene” di atas, saya lalu membandingkan dengan pengalaman saya sendiri. Dimana saat itu saya kebetulan ngeliat status seorang cewek yang sedang down, really down. Sehingga secara natural saya lantas mencoba untuk membantunya, dan kemudian saya ajak dia ngobrol alias chatting. Karena masalahnya masuk ke ranah pribadi dia menolak untuk menceritakannya, dan kata-katanya itu lho yang membuat saya ngerasa sedikit aneh karena dia tiba-tiba membuat pernyataan, kalo saya temannya. Lengkapnya begini,”Bukan soal aku nganggep kamu orang lain. Kamu temenku. Cuma…”

That is! Gara-gara dibilangin kayak gitu saya jadi ngerasa kalo dia ngerasa kalo saya lagi naksir atau pdkt dengan ngasih semacam “perhatian” ke dia. Dan dia langsung menolak dan mengantisipasi dengan mengatakan,”Kamu temenku.” Atau, saya distop cuma bisa masuk ke zona temannya. Padahal saya sendiri juga nggak berharap lebih!

Jika dibandingkan dengan dua kisah di atas, terdapat dengan jelas perbedaan. Yang satu walau si cowok nganggep cewek itu “bukan teman” tapi setelahnya mereka tetap ngobrol dengan santai dan akrab. Sedangkan yang kedua, walau si cewek nganggep (secara sepihak) si cowok “teman” tapi kemudian terjadi awkward feeling di antara mereka.

Well, jika ditelaah lebih lanjut definisi teman di sini agaknya berbeda dengan definisi teman di Amerika, Jepang, maupun negara maju lainnya. Di negara-negara tersebut masih ada satu level di bawah teman yaitu, “stranger” atau “orang asing”, bahkan jika ditanya tentang seseorang yang bukan teman orang sana bisa dengan gampangnya ngomong, “She/he is not my friend, just my classmate”, atau,”We just happened to be in the same class.” Dan tentu saja, kalo orang-orang di negara tersebut punya teman, mereka akan sangat menghargainya. Mungkin di beberapa film kita sering mendengar kalimat ini diucapkan oleh orang yang kecewa sama temannya, “I think we are FRIEND!”

Kembali ke soal relasi antara cowok dan cewek, kalimat. “Kamu (cuma) temenku.” yang tentunya diucapkan dengan nada datar dan sedikit “sombong” khas cewek.๐Ÿ˜€ Mungkin diucapkan ke cowok yang suka padanya sebagai sinyalemen agar jangan ngarep. Kalo di luar, mungkin itu bukan level temen, tapi level stranger. Yang saya herankan ketika definisi teman begitu dalam dan personal di negara luar, kenapa di sini definisi teman sangatlah dangkal layaknya si cewek tadi yang dengan bebas men-judge seseorang sebagai seorang teman, padahal mereka belum cukup dekat. Atau bahkan mungkin saja orang yang di-judge cewek sebagai temannya, mungkin malah nggak menganggap cewek itu temannya. Well, macam-macam lah!

Orang Indonesia memang suka berkenalan dan membuat relasi baru, seperti pada Facebook mereka dimana jumlah temannya mungkin bisa 10 kali lipat lebih banyak dari orang Amerika, yang temannya puluhan, namun mereka adalah real friend, kalaupun bukan real friend, dia adalah online friend yang sering sapa-menyapa ketika mereka berdua online. Namun, gara-gara menganggap remeh arti pertemanan, orang-orang di sini jadi gampang merasa sendirian, karena mungkin mereka mengenal temannya hanya permukaan saja. Jujur, saya sendiri mengakui kalo saya nggak mempunyai banyak teman, paling tidak jumlahnya nggak sebanyak kamu yang sedang baca postingan ini :p. Tapi saya sangat mengenal dekat teman-teman saya, dan saya sangat bersyukur memiliki mereka.

Jika sampai saat ini kamu masih merasa kesepian, walaupun kelihatannya mempunyai banyak teman. Cobalah membuat “tanda pertemanan” dengan mereka, temanmu yang benar-benar teman~ Baik cewek maupun cowok mereka (teman) adalah benda berharga yang harus selalu kamu jaga. Dan janganlah berteman dengan seseorang yang mau berteman denganmu karena statusmu sebagai orang kaya, pintar, dsb. karena kamu tidak akan tahu apa yang akan dia lakukan kalau status2 itu tidak lagi melekat pada dirimu. Have a nice day!

2 thoughts on “Bicara Teman

  1. Pingback: Sahabat, Does Exist | The TWOH's Engineering Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s