PROUDLY PRESENT MY DAD


Oke, inilah sekelumit tulisan yang menceritakan tentang Ayah saya.

Jika ditanya saya itu asli orang mana, saya akan bingung menjawabnya. Saya tahu saya lahir di Tegal, sebuah kota pelabuhan kecil di pantai utara pulau Jawa, tapi darah mana yang mengalir di tubuh saya, saya tidak tahu. Hal itu dikarenakan garis keturunan Ayah tidak bisa dilacak. Berbeda dengan garis keturunan Ibu yang berasal dari Jawa. Ayah saya, inisial WHO lahir tahun 1964 di Jawa Timur tepatnya di Nganjuk, banyak yang bilang (ayah)saya mirip orang china, sampai-sampai dahulu kami selalu dikirimi kartu ucapan Natal setiap tanggal 25 Desember, padahal Ayah saya Muslim. Orang-orang juga memanggil ayah saya dengan sebutan “KOH” atau “OM”. Benarkah begitu? Tidak ada yang tahu, karena Ayah saya sendiri tidak tahu siapa orang tua-nya. Entah beliau keturunan Cina, atau bahkan keturunan Yahudi, yeah whatever kami oke oke aja. Pernah saya tanya serius ke ibu, “Apa jangan-jangan Bapak keturunan Yahudi?”

Sejak kecil Ayah saya hidup dengan orang lain, diasuh oleh seorang nenek yang biasa kami panggil dengan sebutan “Mbah Tegal”. Kami telah menganggap Mbah Tegal sebagai nenek dari Ayah kami, padahal sebenarnya tidak. Waktu kecil Ayah saya diasuh oleh sepasang suami istri yang baik hati. Siapa nama mereka saya lupa, kemudian ke depannya Ayah saya diasuh oleh Mbah Tegal. Mungkin karena Ayah sejak kecil sudah mengalami kehidupan yang keras, maka cara didik beliau ke kami-termasuk saya-juga keras, namun kami tahu itu semua semata demi kebaikan kami sendiri.

Demi meringankan beban orangtua asuh-nya, Ayah kami sejak SMA sudah mulai bekerja. Beliau mencari pekerjaan dengan mengirimkan berbagai artikel ke sebuah surat kabar yang saat itu sedang terkenal. Terus mengirinkan artikel sampai akhirnya mendapat pekerjaan. Semasa kuliah beliau sudah bekerja, dan Ayah saya hanya menamatkan kuliahnya hingga tahap Sarjana Muda, atau bisa disamakan dengan D3, beliau tidak memiliki ijazah S1 namun bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dengan sangat baik.

Banyak sekali hal-hal yang Ayah ajarkan kepada saya dan adik saya. Salah satunya untuk mencintai sesuatu dengan sepenuh hati, Ayah saya bercerita bahwa sejak kecil dia suka dengan Tim Sepakbola Jerman. Jika ada pertandingan bola dan Jerman main, Ayah saya bersama teman-temannya selalu menonton bersama di rumah pak lurah, satu-satunya rumah yang ada televisinya. Sangat suka, hingga pada suatu kesempatan di tahun kalau tidak salah 2005, Ayah saya pergi ke Berlin untuk menghadiri pameran kebudayaan dari seluruh dunia. Wah, kami pun turut merasa bangga. Jika ada suatu tempat atau suatu hal yang menjadi impianmu, maka percayalah dan teruslah bermimpi. Niscaya mimpi itu akan terkabul. Itulah pertama kalinya Ayah saya pergi ke luar negeri. Tahun-tahun berikutnya Ayah juga sempat ke luar negeri, seperti ke Mekkah (naik haji) ke Malaysia dan Singapura. Jika saya tanya, “Gimana pak Malaysia?”, atau, “Gimana pak Singapura?” Ayah hanya menjawab, “Yah ibaratnya orang kampung pergi ke kota besar~.” Saat diberi kesempatan pergi ke Universiti Teknologi Malaysia, saat itu saya sudah kuliah di IT Telkom, beliau berkata, “Di universitas itu komputernya cuma ada tiga cing.” Sontak saya heran, “Maksudnya tiga komputer itu, satu merk Toshiba, satu merk Sony, dan satu merk lainnya. Hahaha.” Garing memang. Konon Ayah saya akan menolak ajakan ke luar negeri lagi, kecuali ke Jepang. Yeah, kalau itu sih saya yang akan mengajak.

Kemudian saat kami beranjak menjadi laki-laki dewasa. DI suatu malam, saya dan adik saya mendapat kuliah khusus dari Ayah. Beliau berkata kalau cinta, jaman sekarang sudah lebih mudah daripada jaman dahulu. Akses komunikasi bermacam-macam, ada SMS, E-mail, SocNet, dan lain lain. Namun beliau berkata kalau sisi tidak enaknya tentu juga ada, tapi saya lupa.šŸ˜› Ayah saya menekankan untuk tidak macam-macam dengan wanita. “Bapak sama Ibu ya waktu nikah sama-sama masih gadis, masih jaka~”
Waktu kuliah Ayah saya hidup dengan Mbah Tegal, satu kalimat yang sangat bagus dan masih saya ingat, “Waktu kuliah bapak bebas. Bapak kan nggak punya orang tua, mau jadi mafia bisa, mau jadi preman, atau jadi apa lah. Bapak tahu Mbah Tegal sudah tua, kalau bapak menghilang, Mbah Tegal kan nggak bisa apa-apa, nggak bisa nyari bapak. Apalagi bapak kuliah di luar kota. Tapi, bapak memilih untuk tidak melakukan semua itu~” Itulah pelajaran yang bisa diambil dari Ayah, seorang laki-laki tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, namun juga terhadap keluarganya.

Di tahun 2004 kami pernah bertandang ke Kediri dan ke Surabaya untuk napak tilas ke kerabat dekat Ayah. Namun yang kami temui hanyalah orang-orang dekat, yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan darah dengan Ayah namun sudah kami anggap sebagai keluarga. Kemudian orang tua baik hati yang pernah mengasuh Ayah waktu kecil, saat itu sedang sakit. Kami pun menjenguknya ke sebuah rumah sakit di Surabaya. Tahun 2004, Surabaya hampir setara Jakarta, padat dan ramai. Kami sekeluarga menginap di Hotel Asia Surabaya, saya masih ingat waktu itu kami mendapat kamar di lantai sebelas. Langsung saya potret tuh panorama kota Surabaya, tapi kayaknya fotonya sudah hilang.

Masalah pekerjaan, sebagai jurnalis Ayah saya selalu langsung terjun ke daerah sumber berita(baca:daerah bencana). Hampir seluruh kota di Nusantara pernah beliau singgahi, Pontianak, Ambon, Aceh, dan sebagainya. Waktu terjadi kerusuhan di Ambon, beliau langsung kesana. Satu hari setelah Natal di Tahun 2004, selang dua hari, Ayah sudah tidak ada di rumah. Beliau ke Aceh. Waktu Letusan Merapi kemarin beliau juga tidak mengungsi, namun malah mendatangi. Haha. That’s the risk of being journalist buddy. Mengunjungi daerah bencana, bukanlah piknik, tidak ada hotel, tidak ada bath-tub. Ayah harus rela tidur di tenda-tenda bersama pengungsi atau sukarelawan. Bahkan waktu letusan Merapi kemarin, Ayah tidak dibawakan kendaraan dari kantor. Setiap hari Ayah menyewa sepeda motor untuk naik ke gunung, ke tempat-tempat pengungsian melihat para korban. Saat ban sepeda motor bocor, Ayah ya mau nggak mau cari tambal ban sampai beberapa kilometer. Belum lagi jika hujan.
Karena tuntutan pekerjaan pula kami sempat berkali-kali pindah rumah. Rumah pertama kali saya dilahirkan adalah sebuah rumah kontrakan di Jalan Merpati di kota Tegal. Di dalam ingatan masa bayi saya, aseek, saya masih ingat dengan samar, rumah tersebut ada di gang yang sempit dan mempunyai lantai berwarna kuning, ukuran 50 x 50 sentimeter. Karena waktu itu saya ingat, saya mengompol dan kemudian dibawa oleh ibu saya melewati beberapa kamar. Kemudian rumah yang kami tempati tempati sejak saya TK sampai SD kelas tiga berlokasi di Kraton Tegal. Kelas tiga SD kami pindah ke Semarang, hingga saya SMA. Semasa di Semarang, Ayah berkali-kali dibujuk kantor untuk pindah ke Jakarta. Namun beliau terus menolak, dengan alasan Jakarta macet dan padat. “Lebih baik bapak dipindahtugaskan ke luar Jawa daripada harus ke Jakarta,” begitu alasan Ayah. Saat liburan semester tiga kemarin, ada perombakan besar-besaran di Kantor Cabang Semarang. Dan Ayah saya terancam akan dipindahkan ke Jakarta lagi. Saya sudah mikir, “Wah enak nih kalau se-keluarga pindah ke Jakarta. Jakarta Bandung kan dekat hehe.” Namun kehendak tersebut bertentangan dengan kehendak Ibu saya. Dan akhirnya karena Ayah telah dianggap sebagai wartawan senior, Ayah pun tetap menempati posisi meja redaksi kantor Semarang.
Yeah bukankah itu keren, karena saat saya melihat Ayah saya, saya melihat seorang pekerja keras yang tangguh dan gigih. Yang berhasil membawa keluarga kami ke taraf hidup yang berkecukupan. Saya pun merasa sebagai generasi pertama dari Ayah saya (yang tidak tahu siapa kedua orang tuanya), saya harus membuat sesuatu yang besar.

Akhir kata, saya berkata dengan bangga, That’s my dad..
Dan semoga Ayah nanti bisa berkata dengan bangga juga, That’s my son.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s