Prolab, Jatuh Bangun Aku Mengejarmu..


Prolab, apakah itu prolab? Prolab adalah singkatan dari Programming Laboratory, sebuah laboratorium yang dihuni oleh beberapa orang yang disebut AsLab, singkatan dari Asisten Laboratorium. AsLab adalah suatu kaum yang menempati tempat bernama ProLab tersebut, setiap hari, setiap waktu. Terutama saat new race (ras baru) datang ke ProLab untuk mencurahkan segala kreativitasnya dalam olah kata pada LayarBiru. Aku termasuk salah satu dari new race tersebut, kami digolongkan kedalam SIIF, race yang jumlah populasinya paling banyak diantara semua race yang ada di ITTB Realm. ITTB Realm sendiri adalah sebuah kawasan ZTK (Zona Teknologi Khusus) yang didirikan untuk mendidik anak-anak kaum Negara Indonexia, agar menjadi penerus dalam bidang IPnTEK (IPTEK not GAPTEK) supaya nantinya Negara Indonexia bisa maju dan mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain seperti NNIDIA, JAP-ON, dan USA.

Dalam ITTB Realm, ada beberapa race yang digolongkan menurut bidang ilmu yang dipelajari, antara lain SIIE, SITE, SIIS, SIEE dan lain-lain. Raceku SIIF mempelajari tentang Matter Intelligent, yaitu tentang bagaimana memerintah sebuah benda kotak yang -tentu saja- mati, menjadi “hidup” dan bisa melakukan apa yang kita perintahkan. Namun untuk memerintah benda kotak tersebut kita harus mengerti Alg-rtm, suatu runtutan perintah yang urut, dan Alg-rtm tersebut harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang benda kotak itu mengerti, pada tahun pertama ini, bahasa yang kami gunakan adalah LayarBiru (PascaL like language). Bahasa yang kurang cerdas memang, Matter Intelligent nya tentu saja hanya mencapai tingkat menengah , dibandingkan dengan bahasa lain yang mempunyai Matter Intelligent tinggi sehingga benda kotak tersebut bisa melaksanakan tudas yang kompleks seperti, KacangsNet, CPP, Penterjemah Formula, Bingkaikerja Net.

Namun semua Matregamer(Matter’s Programmer, sebutan untuk job kami di race SIIF) yang hebat, tentu saja dimulai dengan membuat benda kotak itu seakan-akan bisa membuka matanya untuk pertama kali dan melihat betapa indahya dunia ini, kemudian benda kotak itu berkata satu kalimat pendek

Hello, World.

Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke dalam ProLab, kami dibagi ke dalam tiga kelompok dan setiap kelompok masuk ke dalam ProLab yang berbeda-beda. ProLab adalah suatu Unique Places, dimana tempat itu bisa bergerak berdasarkan Perpetual Motion yang dihasilkan oleh sinergi antara benda kotak di dalamnya dengan bahasa yang kami gunakan. ProLab sudah berada di Zon A, saat kami mengerjakan tes awal, dan hanya diberikan sedikit waktu untuk mengejar ProLab. Setelah kami semua berada di Zon A, kemudian Prolab akan maju ke Zon B dan kami diberi tes dua berupa DeOral (Deadly Journal) untuk dikerjakan. Begitu seterusnya hingga ProLab maju ke Zon C dan kami ditugaskan mengerjakan tes akhir untuk menyusulnya. Praktikum selesai dengan sukses apabila kami berhasil sampai pada Zon C sebelum waktu habis. Jika waktu habis maka ProLab akan maju ke dalam Zona Khusus TLat (Too Late) jika sudah begitu tidak ada gunanya lagi kami mengejarnya..

Aku masuk ke dalam ProLab II, saat kami masuk di dalam ada banyak benda kotak, mereka hanya diam, menunggu kami masuk dan memerintah mereka untuk melakukan sesuatu. Dalam memerintah kami menggunakan alat bantu berupa KIbod (KeyAnsiiBoard) dan MOSE(Matter with O-ScrollEr).
“Selamat datang di Prolab,” ujar AsLab dengan dingin. Kemudian Aslab tersebut menyalakan server dan Perpetual Motion pun dimulai. Kami mulai merasakan distorsi ruang, dimana semua seakan menjadi jauh, dan di ruang yang kosong ini hanya ada aku, benda kotak dan suara AsLab yang sama sekali tak enak didengar. Pertemuan kami yang pertama untuk memerintah benda kotak tersebut untuk berbicara beberapa kata dan melakukan operasi matematika, dengan menggunakan bahasa LayarBiru. Karena bahasa tersebut sudah aku pelajari saat SMA, maka praktikum pertama tidak terasa tidak gampang bagiku. Selesai satu soal pada tes pertama, distorsi ruang mulai sedikit hilang, kemudian soal kedua, hingga ruangan terasa kembali normal. Begitu sesi DoUrnal dimulai, distorsi ruang mulai terjadi dan seterusnya. Bagi orang yang tidak kuat mengalami distorsi ruang terus menerus, akan menjadi pusing dan lama kelamaan distorsi tersebut akan memakan dirinya sendiri, yang menyebabkan saat distorsi ruang selesai dan bentuk ruang kembali normal, orang tersebut tidak terlihat lagi. Untungnya saat praktikum pertama, semua temanku masih lengkap tidak da yang mengalami distorsi dan hilang. Praktikum yang pertama ini, aku bisa berjalan seiring dengan ProLab.

Kemudian tiba saatnya Praktikum Kedua berupa analisa kasus, yaitu suatu analisis kondisi untuk menentukan aksi mana yang akan dipilih oleh si benda kotak. Praktikum kali ini, aku juga masih bisa berjalan seiring dengan ProLab. Hingga Praktikum Ketiga saat kami ditugaskan memecah program utama menjadi beberapa prosedur dan fungsi, semuanya masih berjalan lancar. Dan semua temanku masih terlihat..

Sesuatu yang lain nampaknya akan terjadi pada praktikum ke empat, ketika serombongan AsLab bertopeng phantom dan berjubah hitam tiba-tiba datang ke dalam kelasku. Seorang AsLab yang membawa Death Scythe dan nampaknya pemimpin dari mereka berkata, “Kalian akan menjalani responsi untuk menghadapi Praktikum Ke Empat… Sabtu besok.” Usai berkata begitu, AsLab – AsLab tersebut sontak menghilang dan meninggalkan daftar responsi pada papan tulis. Suasana hening.
“Apa maksudnya ini….,” bisik teman-teman ku. Sang ketua kelas berusaha menenangkan suasana kelas dengan berkata, “Semuanya… Tidak usah khawatir. Asal kita mengikuti responsi, semua pasti berjalan dengan baik.” Namun wajahnya terlihat cemas. Temanku yang bernama JiOn tiba-tiba berteriak, “Hai, ketua! Apa benar kita semua akan baik-baik saja..!”, Jion kemudian menunjukkan telapak tangannya,”.. Lihatlah!.” Aku pun melihat telapak tangannya, sekilas terlihat normal, tapi setelah diperhatikan ada riak-riak kecil persis di tengah telapak tangannya, riak itu terlihat berputar, kemudian berputar lagi berlawanan arah, namun tempatnya tetap pada telapak tangannya. Melihat itu sang ketua kelas melangkah mundur, menabrak meja di belakangnya wajahnya nampak semakin cemas,”I.. Itu Distorsi..” Jion nampaknya telah menunjukkan tanda-tanda akan hilang.

Hari untuk praktikum ke empat telah tiba, kami akan melakukan proses looping atau perulangan. Perbedaan mendasar antara manusia dan benda kotak saat mereka mengerjakan hal yang sama berulangkali adalah, benda kotak tidak kenal lelah. Sehingga dia tidak tahu kapan harus berhenti, kecuali jika kita yang menentukan. Tes pertama masih bisa kujalani dengan mudah. Kemudian saatnya menjalani DoUrnal, begitu melihat soalnya aku sudah merasa tidak yakin. Apa ini? ‘Buatlah program yang menunjukkan cara memindah menara hanoi dari A ke C dengan gambar, user menginputkan tinggi menara’.

Hanoi

Tower Of Hanoi

Aku sendiri tidak tahu apa itu Hanoi, aku bahkan tidak tahu siapa biksu yang memainkan permainan semacam itu. Apalagi orang bodoh yang mana yang beraninya menjadikan permainan orang iseng semacam ini untuk soal praktikum Matregamer dasar? Tidak ada cara lain selain bertanya! Untungnya pada saat DoUrnal kita bisa bertanya kepada AsLab, tapi bertanya bukan berarti kita akan mendapatkan jawabannya dengan mudah. “Kak!”, panggilku. Kemudian dinding putih disampingku menjadi bergelombang seperti lapisan air yang disentuh. Dari pusat gelombang muncul seorang AslaB menembus dinding, seolah-olah dinding tersebut terbuat dari agar agar. AsLab tersebut mengalahkan distorsi, pasti ada sesuatu yang dia pakai untuk bisa bebas menembus distorsi ruang.
“Dalam DoUrnal Anda memang boleh bertanya, yang mana?”, tanya AsLab.
“Yang ini”, sembari kutunjukkan soalnya. Sang AsLab lantas membacanya, sejenak kemudian dia mengernyitkan dahinya dan tertawa tebahak-bahak,”Kha ha ha.. Dasar bodoh! Kau mengerjakan soal untuk bab rekursif bukan repeat!” Oh, rupanya aku salah memasukkan kata kunci soal! Aku lupa jika di atas kata Repeat masih ada kata lain yaitu Recursive. “Maaf kak, kalo begitu saya akan segera logout”, kataku kepadanya. Tetapi AsLab tersebut malah tidak segera beranjak pergi, dengan kasar dia merebut KiBod yang sedang kugunakan, “Apa? Kau pikir aku tidak bisa menyelesaikan soal ini! Lihatlah!” Aslab itu kemudian mulai mengetik pseudocode untuk menyelesaikan soal tersebut. Sangat cepat, satu baris program selesai dalam waktu kurang dari satu detik, matanya memindai setiap baris yang selesai diketik tidak ubahnya seperti interpreter. Luar biasa! Tapi aku tidak punya waktu untuk melihat kemampuan seorang AsLab sekarang, aku harus segera mengejar ProLab sebelum waktunya habis!

“Masih lama kak? Saya harus segera mengerjakan DoUrnal.” AsLab hanya melihatku sekilas dan berkata, “KhuKhuKhu. Tinggal 719 baris kode.” Kau pasti bercanda.. Aku sudah tidak tahan lagi, tanpa ba-bi-bu kurebut KiBod dari tangannya. Si AsLab tampaknya tak mau kalah,”Apa-apaan kau bocah! Lepaskan tanganmu!” Aku pun membalasnya dengan berkata, “Maaf kak! Tapi saya juga harus segera mengejar ProLab!” Di ruang distorsi yang kosong ini hanya ada aku, benda kotak dan si AsLab yang menjengkelkan ini. Aku berpikir bagaimana caranya untuk membuat dia lenyap seperti saat dia datang. Lalu kulihat sebuah gelang hitam yang melingkar di tangannya, gelang itu mempunyai tombol bertuliskan AD yang menyala merah. AD.. AD.. Ah! Itu dia, Anti Distortion! Segera kulepaskan Kibod dari cengkramanku, si AsLab kemudian mengangkat KiBod itu ke atas. Di saat itu, aku bergegas memegang tangan AsLab dan memencet tombol merah tersebut. Tetapi tidak terjadi apa-apa! “Kenapa ini!”, batinku. Si AsLab tertawa keras, “Hahaha! Kau pikir sembarang orang bisa memencet tombol tersebut! Tombol itu ada INTEGER-nya!” INTEGER (fINger prinT rEcoGnizER) adalah alat untuk mendeteksi sidik jari. Sial! AsLab kemudian memukulku menggunakan KiBod, aku hampir jatuh namun tedua tanganku tetap berpegangan pada tangan AsLab yang satunya. Cengkeramanku kuperkuat. “Aarghh!”, teriak Aslab, “lepaskan tanganku bocah!” AsLab membanting KiBod di tangan satunya,dan kemudian memakainya untuk melepaskan diri cengkeramanku. Ini kesempatan! Tangan AsLab satunya kupegang, apa lagi yang aku incar selain jarinya! Sebisa mungkin kudekatkan jari AsLab itu ke tombol merah pada gelang di tangan satunya. “Bocah sial! Aku tidak akan kalah..!” Gerutu AsLab. Namun ini masalah kekuatan, bagiku yang masih seorang race baru tentunya labih kuat dibandingkan AsLab yang jarang berolahraga. Dengan sekali hentakan, kukerahkan segenap tenagaku dan akhirnya. “Sial..!” Si AsLab terjatuh, tombol AD menjadi berwarna hitam. Dan tidak lama kemudian lantai tempat AsLab jatuh segera membentuk gelombang seperti pemukaan air ketika disentuh, dan tubuh AsLab perlahan-lahan tersedot ke dalamnya. “Akan kucatat NIM-mu bocah! Praktikum kali ini dipastikan kau tidak lulus..!” Aku hanya diam. Kulihat si Aslab berusaha naik ke permukaan, namun gagal karena segala yang disentuhnya menjadi kenyal seperti agar-agar. Scene ini lumayan bagus sehingga jika ini adalah game GTA IV, pasti kutekan F2, pikirku. Kemudian si Aslab tersebut hilang. Ruangan kembali kosong dan di sekelilingku hanya ada warna putih.

Aku mengambil KiBod dan kembali duduk di depan benda kotak dan mulai mengerjakan DoUrnal. Satu soal, dua soal. Dua soal telah selesai. Samar-samar mulai terlihat meja, orang berjalan, papan tulis di sekelilingku. Tinggal soal nomor 3 dan 4. Nomor tiga, buatlah program yang menampilkan banyaknya bilangan tribonacci sesuai yang diinputkan user. Nomor 4, buatlah program yang menghasilkan keluaran sebagai berikut.

12345
23451
34512
45123
51234

Baik, akan kukerjakan! Aku mulai mengetikkan pseudocode LayarBiru, dan memainkan logikaku. Lima menit, sepuluh menit, tidak terasa aku sudah mengetik selama 15 menit dan yang kulakukan hanya mendelete stateman di suatu baris, dan mengetikkan statemen yang sama pada baris yang sama. Tentu saja ini tidak akan berhasil! Aku mulai merasakan lelah dan pusing, ditambah aku baru saja adu kekuatan dengan AsLab. Kulihat jam menunjukkan waktu tinggal 6 menit lagi. Di Zon B atau zona tempat Prolab berada juga sudah banyak teman-temanku yang sampai disana. Tidak ada cara lain selain bertanya kepada teman! Aku lantas mencari teman yang bisa kuajak chatting dan dia bisa mengajariku. Rupanya tinggal 4 temanku yang belum selesai, dan ini alamat benda kotak mereka yang ditampilkan oleh aplikasi Ini Messenger(IM):

Click double on address below to start chatting | Ini Messenger Ver.5.2
00-4e-5d-89-7a-22
2a-5f-12-dd-e7-6c
4d-ab-10-3c-6e-0b
7f-7e-7d-7c-7b-7a

Alamat nomor 4 nampaknya mencurigakan, sepertinya siapapun yang ada disana pasti sudah selesai dan bisa membantuku. Segera aku melakukan pinging dan berhasil, kemudian ku klik alamat itu dua kali terbukalah chatbox.
“3f-4a-55-2b-6e-fc : Tolong perlihatkan DoUrnal no 3 dan no 4 mu” tanyaku tanpa basa basi. Kemudian muncullah pesan yang menyertakan attachment di dalamnya.

7f-7e-7d-7c-7b-7a : atc=DOURNAL3.PAS <press U for Unduh>
7f-7e-7d-7c-7b-7a : atc=DOURNAL4.PAS <press U for Unduh>
3f-4a-55-2b-6e-fc    : _

Ini yang kutunggu. Setelah kubuka dan kucompile ternyata semua program tersebut berjalan dengan baik. Akhirnya, DoUrnal ku selesai tepat waktu. Sekarang tiba saatnya mengerjakan Tes Akhir, soal Tes Akhir seperti biasanya dapat kukerjakan. Tes Akhir pun selesai begitupun dengan praktikum ke empat. Semua benda di sekelilingku sudah terlihat jelas, ada meja, kursi, benda kotak lainnya, papan tulis, AC, jendela, dan dinding kecoklatan yang terlihat nyata. “Rupanya begini wujud Prolab..”, batinku. Kulihat temanku masih ada semua, ternyata rumor tentang mereka yang hilang itu tidak benar. Aku melihat AsLab-AsLab yang ada, tetapi AsLab yang tadi berkelahi denganku tidak nampak. Masa bodoh, kuambil tas dan kulangkahkan kakiku keluar dari ProLab. Di koridor yang akan kulewati nampak seseorang berdiri di dekat jendela. Dan setelah aku mendekat, ternyata dia AsLab yang tadi berkelahi denganku. Aslab itu berkata sembari tersenyum, “DoUrnal nomor 3 dan 4 mu nilainya null.”
“Bagaimana kau tahu?!”,balasku. Namun AsLab itu cuma tersenyum. Seketika aku sadar, “Itu.. Tadi AlamatApel-mu?”
“Khukhu, mana mungkin AlamatApel orang biasa bisa se-unique itu,” katanya sambil melangkah pergi, “walaupun kaukerjakan nomor 3 dan 4, tapi itu program orang lain, bukan programmu. Karena itu berlatihlah terus!.”
“Iya..”, aku merasa sedikit malu, walaupun dia masih kalah kuat dibandingkan aku, namun apa yang dikatakannya benar.
“Kau tahu, nanti yang akan kau kejar bukan hanya ProLab, ProLab itu bukan apa-apa..”, katanya sambil menoleh ke arahku,”tetapi sesuatu yang tidak akan kembali, yaitu Waktu.”
Benar! Sampai kapan Indonexia akan terus tertinggal begini, negara lain sudah mencapai kemajuan dalam bidang IPnTEK. Dan MotherEarth sudah semakin tua, apakah Indonexia tidak akan maju sampai kiamat nanti? Jika kita tidak berlari, maka sesuatu yang berkilau nun jauh disana, tidak akan tercapai. Orang biasa menyebutnya “impian”.

5 thoughts on “Prolab, Jatuh Bangun Aku Mengejarmu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s